Artikel – Meneladani Kesederhanaan Abu Dzar Al-Ghifar

Standar

Abu Dzar datang tergopoh-gopoh ke Makkah. Ia mencari Rasulullah. Abu Dzar sudah berjalan dari negeri bernama Ghifar menuju Makkah. Ghifar adalah suatu tempat yang sangat jauh dari Makkah. Tak ada yang bisa menandingi jauh nya Ghifar.
“Kamu dari mana?” tanya Rasul ketika Abu Dzar menemuinya. Abu Dzar ingin menemui Rasul hanya ingin menyatakan keislamannya. “Saya dari Ghifar,” kata Abu Dzar.
Rasulullah takjub sekali dengan Abu Dzar. Agama Islam yang dibawanya sampai hingga negeri Ghifar yang sangat jauh. Abu Dzar menyatakan memeluk Islam. Ia merupakan orang-orang yang memeluk Islam pertama ka li. Ketika itu, Nabi berdakwah dengan sembu nyi-sembunyi. Tapi, tak ada kata sembunyi dalam kamusnya.
Ia langsung menyatakan keislamannya. Ia pergi ke Masjidil Haram dan berteriak menyatakan keislamannya. “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah,” teriak Abu Dzar.
Teriakan itu menentang kesombongan kaum kafir Quraisy. Akibatnya, Abu Dzar disiksa. Orang-orang memukulinya. Berita dipukulinya Abu Dzar akhirnya sampai ke telinga paman nabi. “Anda semua pedagang. Ia Bani Ghifar. Apakah kamu tidak takut orang-orang Ghifar akan merampok kamu nanti?”
Orang-orang berhenti memukuli Abu Dzar. Abu Dzar lalu kembali ke Ghifar. Kepada penduduk Ghifar ia menceritakan tentang Nabi Muhammad. Penduduk Ghifar banyak yang memeluk Islam.
Abu Dzar memeluk Islam dengan taat. Ia berdakwah menemui pusat-pusat kekuasaan. Ia berdakwah agar para pembesar bersikap dermawan dan tidak menumpuk kekayaan. Ia mengajarkan hidup sederhana dan tidak boros. Ia menyerukan agar tidak berlaku curang dalam mengumpulkan harta.
Nama Abu Dzar terkenal. “Beritakan kepada penumpuk harta, mereka akan disetrika dengan setrika api neraka,” kata Abu Dzar. Kalimat itu menjadi dakwah khas Abu Dzar.
Abu Dzar tetap hidup dengan kesederhanaannya. Ia masih memakai baju usang. Abu Dzar selalu bersyukur dengan semua pemberian Allah. Ia sangat sederhana dan tidak cinta dunia.
Sumber: disarikan dari karya Khalid Muh Khalid dalam buku Karakteristik Peri Hidup Sahabat Rasulullah.

Artikel Tokoh Islam

Standar

Syaikh Said Nuresi

Mengkaji sejarah kehidupan tokoh-tokoh besar dapat memberikan begitu banyak pelajaran dan juga motivasi diri. Mengenalkan tokoh-tokoh terkenal di negri-negri Islam, khususnya mereka yang telah memberikan jasa-jasanya dalam perkara sosial-budaya untuk kemajuan masyarakat di sekitarnya, dapat membukakan jendela-jendela kesempurnaan dan makrifat ke arah para perindunya.

Syaikh Said Nuresi, adalah seorang tokoh terkenal di Turki. Ia adalah seorang alim dan pengkaji Al Qur’an. Ia menghabiskan umurnya di jalan ini; mempersembahkan murid-murid yang berbakat dan berhasil yang senantiasa melanjutkan perjalanan gurunya dalam mengajarkan makrifat-makrifat Al Qur’an. Kita cukup menengok ucapan-ucapan para pemikir dan para orientalis tentang Syaikh Nuresi dalam konfrensi-konfrensi yang mereka adakan pada tahun 1992, 1995 dan 1998 untuk mengetahui apa pentingnya mengkaji sejarah hidup beliau. Pandangan-pandangan tentang Syaikh Said Nuresi dapat dijumpai dalam buku yang ditulis oleh Urkhan Muhammad Ali dan Dr. Ibrahim Abu Rabi’ yang berjudul Said Nuresi fi Nadhari Mufakkirii Gharb. Begitu pula ada buku yang lebih luas lagi pembahasannya tentang beliau yang berjudul Al Islam Ala Muftaraq Al Thuruq.

Dalam makalah ini, akan kami bawakan sekilas sejarah kehidupan beliau. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi terwujudnya persatuan umat Islam di dunia.

Kondisi sosial-budaya Turki di masa kehidupan Syaikh Nuresi

Di akhir abad ke-19, yaitu masa-masa terbentuk dan berkembangnya pribadi ilmiah Said Nuresi, dunia sedang mengalami krisis, khususnya Turki yang  merupakan kampung halamannya sendiri. Misalnya di permulaan abad 20 meletus perang dunia ke-1 dan ke-2, runtuhnya kekhilafahan Usmani, munculnya rezim Laik, usaha-usaha pemberantasan Islam dan penghapusan identitas ke-Islaman, dan seterusnya. Semuanya berpadu menjadi faktor utama terbentuknya pemikiran-pemikiran sekularisme dan kebencian terhadap agama. Dengan menggambarkan kondisi di masa itu, kita dapat memahami lebih baik peranan Nuresi di tengah-tengah masyarakatnya. Di masa-masa seperti itu, bangkitnya seorang alim dan arif sangat diperlukan sekali guna membuka kembali jendela-jendela keagungan Islam; jika tidak maka akan terjadi dekadensi keilmuan-budaya pada masyarakat Muslim Turki dan juga perubahan pola pikir tidak mungkin terwujud dengan segera.

Syaikh Said Nuresi adalah seorang tokoh Turki yang bangkit membela kebenaran Islam dan memperjuangkannya pada masa di mana kegiatan religius dianggap kolot, ulama dihakimi, para pemikir dieksekusi, ajaran agama dilarang, Muslimin tidak hanya dilarang melakukan ibadah secara bersama-sama bahkan beribadah sendirian pun tidak boleh, perempuan-perempuan Muslim tidak boleh mengenakan hijab. Dalam kondisi seperti itulah Syaikh Nuresi bangkit dengan penuh tekat dan keberanian.

Disebutkan tentang beliau: Said Nuresi dalam medan pemikiran adalah seoang pejuang handal; dalam panggung politik, suaranya mendapatkan tempat yang layak; di antara sesamanya, ia selalu menjelaskan sunah-sunah mulia; di tengah-tengah masyarakat, ia selalu menerangkan poin-poin moral. Ia menyerukan persatuan di atas mimbar-mimbar. Ialah orang pertama yang menyerukan perpaduan antara hauzah dan perguruan tinggi dan menyarankan didirikannya universitas Al Zahra yang lebih ia andalkan daripada Al Azhar. Akhirnya ia berhasil menerapkan ide-idenya dalam dunia keilmuan dan pendidikan murid-murid ternama. Ia juga memberikan banyak peninggalan-peninggalan berharga bagi orang-orang setelahnya.